Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 November 2014
Mari Mencicipi Sambal Belut
Kuliner dari daging belut memang belum populer. Tapi, bukan berarti hidangan dari ikan bertubuh panjang seperti ular dan licin itu tak bisa disulap menjadi sajian nan nikmat. Misalnya, sambal belut dan belut goreng.
Penasaran, dong, ingin mencicipi? Nah, kalau Anda sedang berlibur atau bertugas ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ke Warung Sambel Welut Pak Sabar. Kedai milik Sabar yang berdiri tahun 1996 silam ini terletak di Jalan Imogiri Barat KM 6 Dokaran, Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Tak terlalu sulit menemukan kedai yang buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam ini. Dari pusat Kota Yogyakarta, arahkan saja kendaraan Anda ke selatan menuju Pojok Benteng Timur. Jika datang dari Jalan Brigjen Katamso, belokkan kendaraan Anda ke kiri. Di pertigaan pertama, belok kanan masuk ke Jalan Sisingamangaraja. Susuri jalan ini hingga bertemu Jalan Lingkar alias Ringroad Selatan.
Dari situ, Anda masih harus berjalan lurus ke selatan sekitar 1,5 kilometer. Lalu, belokkan kendaraan Anda masuk ke gang keempat yang berada di sisi kiri. Setelah menyeberang jembatan, Anda akan menemukan papan nama bertuliskan Warung Sambel Welut Pak Sabar di dekat masjid yang ada di sebelah kanan jalan. Kedai tersebut agak menjorok ke dalam, tak jauh dari masjid.
Bangunan kedai ini sebetulnya biasa saja, jauh dari kesan mewah. Dindingnya terbuat dari kayu dan bambu. Di dalam kedai, tersedia belasan kursi dan meja panjang yang bisa menampung pengunjung lebih dari 50 orang. Meski sederhana dan letaknya agak terpelosok, dari pigura foto yang terpajang di dinding, Anda bisa tahu, tak sedikit selebritas yang pernah singgah ke kedai ini.
Sesuai namanya, hidangan favorit kedai ini adalah sambal belut. Tentu, tak lengkap menikmati sambal belut tanpa belut goreng ataupun oseng belut cabai hijau. Dan, Sabar mematok harga hidangan bukan dalam satuan porsi, melainkan dalam satuan kilogram bobot belut hidup. Untuk semua hidangan, harganya sebesar Rp 75.000 sekilogram.
Cuma, Anda tak harus memesan satu hidangan hingga satu kilogram, lo. Kalau cuma berdua, Anda bisa, kok, memesan sambal belut satu porsi yang biasanya dibuat dari tiga ons belut. Namun, khusus oseng belut, Anda harus memesan minimal 0,5 kg belut.
Pakai tungku kayu
Setelah memesan, Anda harus rela menunggu cukup lama. Maklum, belut yang dihidangkan di kedai ini merupakan belut segar. Setelah Anda memesan, barulah Sabar mengolah belut yang masih hidup untuk dijadikan hidangan spesial sesuai pesanan. Tapi, kalau tak ingin menunggu terlalu lama, Sabar menyarankan, Anda memesan lewat telepon terlebih dahulu. Soalnya, “Kalau sedang ramai, pengunjung bisa menunggu hingga dua jam,” ungkap Sabar.
Setelah matang, sambal belut bersama belut goreng dan oseng belut yang masih hangat bakal tersaji di meja, ditemani lalap mentimun, daun kemangi, dan daun bayam rebus. Oseng belut yang bertabur potongan tomat dan sayuran tampak menarik. Namun, belut gorengnya juga tak kalah menggoda.
Tentu saja, yang pertama mesti dinikmati adalah menu andalan racikan Sabar: sambal belut. Warna hidangannya memang tampak pucat, meski berhias gerusan cabai merah dan cabai hijau. Namun, saat sampai di mulut, rasanya sungguh menggugah selera.
Rasa gurih dari daging belut berpadu dengan rasa pedas nan segar. Sangat nikmat disantap bersama nasi yang masih hangat. Mantap. Oh, iya, Anda bisa memesan tingkat kepedasan sambal belut sesuai selera.
Sebetulnya, Sabar menjelaskan, bumbu sambal belut buatannya biasa saja, lantaran terbuat dari bawang, garam, cabai. Yang bikin istimewa, Sabar menambahkan kencur untuk menghasilkan aroma dan rasa yang segar.
Selain itu, proses memasaknya juga beda. Pertama-tama belut digoreng setengah matang lalu diambil dagingnya. Kemudian, daging belut ditumbuk bersama bumbu. “Kalau orang lain, daging tidak dipisah sehingga tulang belut ikut ditumbuk,” katanya.
Tentu, sayang membiarkan belut goreng tergeletak begitu saja. Apalagi, dagingnya begitu empuk. Rasanya gurih dan nikmat. Cocok menjadi teman sambal belut. Daging belut goreng itu juga tak bau amis karena Sabar menambahkan kunyit ke dalam bumbunya.
Oseng belut bikinan Sabar juga tak kalah nikmat. Perpaduan rasa gurih dan manis yang menyegarkan bakal memanjakan lidah Anda. Oh, iya, semua hidangan racikan Sabar dimasak menggunakan tungku kayu. Cara ini sengaja dipilih Sabar agar hidangannya menghasilkan rasa yang lebih nikmat dan bebas dari bau minyak.
Untuk teman makan, ada teh manis dengan gula batu yang bakal menyegarkan kerongkongan Anda. Jadi, silakan mampir ke kedai ini saat Anda pergi ke Yogyakarta.
(Herry Prasetyo/Sumber: Mingguan KONTAN)
Senin, 03 November 2014
Rasa Pekat Gudeg Yu Narni yang Lezat
![]() |
| Gudeg krecek suwir pakai telur |
Bicara tentang kuliner khas Yogyakarta tak bisa lepas dari kuliner gudeg. Bicara tentang gudeg tidak bisa mengabaikan kawasan Barek, Sleman. Dan bicara tentang gudeg Barek tak bisa melewatkan nama Yu Narni, salah satu dari tiga produsen gudeg besar di daerah ini, di samping Yu Djum dan Hj Amad. Gudeg Yu Narni adalah milik bu Narni Suwardi, yang memang berasal dari Barek --atau dalam lidah Jawa, mBarek.
Gudeg Yu Narni memang memiliki cita rasa yang memadai dengan kepopulerannya. Mungkin karena rasa gudegnya yang tergolong pekat, atau dalam istilah beberapa orang, ‘medok’. Rasa ‘medok’ ini terasa pada semua komponen gudegnya, termasuk areh, krecek, bahkan telur pindangnya. Selain bumbunya meresap, bahannya juga dari ayam kampung dan telur bebek, sehingga rasanya lebih mencuat. Dengan demikian cita rasanya memang lebih mantap dan lebih lama menetap di lidah. Rasa gudegnya tidak terlalu manis, ini mungkin juga salah satu kekhasannya. Ada sedikit asin yang menambah rasa nikmatnya.
![]() |
| Mas Dony, putra bu Narni, yang membantu mengelola cabang di Jalan Magelang |
Gudegnya tergolong gudeg kering. Awalnya, kata Dony Sukma Anggara (32 tahun), putra bu Narni (56 tahun), gudeg buatan kakek dan ibunya masih berupa gudeg basah. Namun dengan pertimbangan ekonomis, ibunya beralih ke gudeg kering yang memang lebih awet. Gudeg kering Yu Narni bisa bertahan 24-36 jam. Di Yogya penjual gudeg kering kini memang jauh lebih banyak dibanding gudeg basah.
Yang juga jelas awet adalah usia usaha gudeg yang dirintis keluarga bu Narni. Diawali oleh Mbah Wito yang menjajakan gudegnya dengan digendong pada sekitar tahun 1945. Menurut Dony, eyangnya berjualan dari Barek sampai sekitar Tugu. Kemudian Mbah Wito mendirikan warung gudeng di Kebon Dalem yang cukup laris, dibantu anaknya, bu Narni, yang saat itu masih kanak-kanak.
Menjelang akhir 1970-an terjadi estafet antar generasi dari Mbah Wito ke Bu Narni. Nama warung gudeg Mbah Wito perlahan kemudian berubah menjadi Yu Narni. Papan nama yang mencantumkan nama keduanya masih dapat dilihat di dalam warung di Kebon Dalem, di belakang etalase. Tertulis di sana: “Gudeg yang Pertama, ‘Bu Wito/Narni’ (Asli dari Mbarek), Telp. 543713, Buka: 06.00 – 21.00.”
![]() |
| Papan nama gudeg di Kebon Dalem jaman dulu, masih memakai dua nama: “Bu Wito/Narni” |
Karena semakin laris dan dikenal, pada tahun 1990-an Bu Narni membuka warung gudeg di rumahnya di Jl. Kaliurang Km 4,5. Awalnya, kata Dony, ibunya juga menjual nasi ramesan, selain gudeg. Namun kemudian khusus hanya menyediakan gudeg, yang memang terbukti ampuh kehandalannya.
Bu Narni kemudian membuka cabang lagi dengan bantuan anak-anaknya. Pada tahun 2002, tutur Dony, bu Narni membuka cabang di Magelang tapi hanya bertahan dua tahun. Setahun kemudian, pada 2003, cabang di Jalan Palagan Tentara Pelajar dibuka, dibantu si sulung Dedi. Lantas pada 2011 giliran cabang di Jalan Magelang Km 11 Tridadi dibuka, dibantu Dony. Sedangkan Dyah, anak ketiga bu Narni, membantu ibunya di Barek. Adapun warung di Kebon Dalem, karena kecil dan sederhana, ditunggu oleh stafnya.
Meski banyak cabang, semua gudegnya dimasak dan diolah di Barek, lantas didistribusikan ke semua cabang. Dengan demikian cita rasanya tetap standar dan kualitasnya terjaga.
Saudara-saudara bu Narni juga terjun di bisnis gudeg. Menurut Dony, dari enam anak mbah Wito, empat orang di antaranya melanjutkan usaha gudeg. Gudeg Campur Sari yang populer dengan nama Gudeg Batas Kota, misalnya, adalah milik kakak bu Narni. Bahkan jika dirunut ke atas Yu Djum dan Mbah Wito masih bersaudara karena, kata Donny, Yu Djum adalah adik mbah Wito putri, jadi adik ipar mbah Wito kakung.
![]() |
| Panci-panci gudeg, areh, telur pindang dan krecek |
Harganya juga tergolong murah, atau setidaknya, standar. Gudeg krecek/telur Rp 8.000, gudeg telur/tahu Rp 9.000. Jika dilengkapi ayam suwir/sayap Rp 10.000, ati ampela Rp 13.000, kepala/paha Rp. 14.000, paha atas/dada Rp 24.000.
Jam buka warung gudeg Yu Narni berbeda-beda meski selisihnya sedikit. Yang paling pagi dan lama jam bukanya adalah warung pusat di Barek buka pukul 05.00 sampai pukul 21.00. Warung di Kebon Dalem, pukul 05.30 – 20.30. Dan warung di jalan Magelang, pukul 06.00 – 19.00.
Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya
Minggu, 28 September 2014
Gubug Makan Iwak Kalen
Namanya ‘Gubug Makan Iwak Kalen’. Lokasinya masuk dari jalan raya. Persisnya di jalan Godean Km 9. Papan nama yang dipasang pada pertigaan masuk dusun tertulis ‘Gubug Makan Iwak Kalen’ masuk 1 menit. Kalimat 1 menit, agaknya merupakan kata ganti 1 km. Karena memasuki arah menuju warung ini sekitar 1 km. Lokasinya ada di jalan Goedan km 9, Gg Mandungan, Nggenitem, Sidoagung, Godean, Sleman, Yogyakarta.
Warungnya terbuat dari bambu, sehingga memberikan kesan warung ndeso. Tersedia lesehan, atau juga tersedia kursi. Sekitar bangunan warung dikitari sawah. Orang yang ingin menikmati makanan iwak kalen sambil tangannya menggapai padi bisa duduk lesehan dekat sawah. Karena tempat lesehan terbuka dan langsung bersentuhan dengan sawah.
Seperti nama warungnya, kuliner yang disajikan rupa-rupa iwak kalen, seperti kutuk, aneka wader, nila, lele, uceng sili, belut dan sebagainya. Pilhan masaknya bisa berupa gorengm atau mangut, setidaknya pada kutuk, lele, belut bisa dimasak mangut. Tapi pada aneka wader, termasuk uceng sili hanya bisa digoreng. Sayuran dan dan aneka sambal tersedia, tinggal dipilih. Aneka sambalnya gratis: sambal tempe, sambal tomat matang, sambal trasi matang dan lainnya. Sayuran ada harga sendiri, tinggal milih oseng daun papaya, balado terong dan lainnya.
‘Kuliner Tembi’ menyusuri sepanjang jalan Godean, dan sampai pada km 9, pada pertigaan jalan menuju dusun ada spanduk bertuliskan ‘Gubug Makan Iwan Kalen’. Mengambil duduk lesehan yang dekat dengan sawah bersama dua orang teman. Salah satu teman, Darwis Khudori namanya, orang Indonesia yang menetap di Perancis dan kebetulan liburan. Melihat lokasi yang dikitari sawah.
“Wah, sudah lama tidak melihat sawah, apalagi duduk lesehan di tengah sawah” kata Darwis Khudori.
Beberapa menu dipesan sekaligus karena satu porsi menu hanya untuk satu orang. Pilihan menunya kutuk mangut, wader, uceng cili, sambal tempe, sambal terasi, oseng daun papaya dan balado terong, Minumannya kopi hitam, jeruk panas dan capucino. Wader diogereng kering sehingga terasa gurih dimakan, demikian juga uceng cili. Kutuk mangut satu piring berisi tiga kutuk, kuahnya meski kelihatan merah, tetapi tidak terlalu pedas. Makan wader goreng untuk melengkapi kuliner berkuah seperti ketuk mangut, betapa nikmatnya.
Kutuk mangutnya empuk dan tidak alot. Tiga kutuk dalam piring mudah sekali untuk dipotong denga tangan, sehingga memang terasa nikmat makan iwak kalen mengguakan tangan tanpa sendok.
Kalen dan Kali (sungai) dua hal yang berbeda. Kalen lebih kecil dan biasanya airnya diambilkan dari kali (sungai), atau dari sumber lain. Kalau disebutkan ‘iwak kalen’, agaknya untuk memberi kesan eksotik, meskipun menu ikannya diambil dari kali (sungai).
Siang hari,, gubuk makan tampak dikunjungi banyak orang. Mungkin orang merasa kangen makan jenis iwak kalen. Harga masing-masing porsi tidak mahal, hanya berkisar anara Rp 6000 sampai Rp, 7000-an. Dalam kata lain, gubug makan iwak kalen ini, harganya terjangkau.
Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya
Label:
belut,
iwak kalen,
kutuk,
lele,
nila,
uceng sili,
wader,
yogyakarta
Kamis, 07 Agustus 2014
Sungguh Pas Di Perut Menyantap Bubur Gudeg Di Pagi Hari
![]() |
| Sepiring bubur gudeg lengkap dan segelas teh panas, pas untuk mengisi perut di pagi hari |
Masyarakat Yogyakarta masa lalu mempunyai korelasi yang kuat dengan kebiasaan atau kultur makan (sarapan pagi) dengan bubur gudeg. Kultur sarapan bubur gudeg ini sekarang mulai pudar mengingat ada begitu banyak tawaran cara sarapan dengan kuliner lain yang beragam.
Di tengah maraknya dunia kuliner di Yogya ternyata penjual bubur gudeg masih dapat ditemukan di banyak tempat. Salah satu pos bubur gudeg dapat ditemukan di Jl Parangtritis, khususnya di sisi selatan Pasar Prawirotaman hingga sekitar bekas Kampus STIE atau Kampung Salakan di sisi utara perempatan ringroad Druwo. Di ruas jalan ini setidaknya dapat ditemukan enam penjual bubur gudeg.
Bubur gudeg identik dengan gudeg basah, bukan gudeg kering seperti yang terdapat di Wijilan atau di kawasan Barek. Bubur gudeg juga identik dengan pagi hari karena bisa dikatakan bubur gudeg hampir tidak pernah dijajakan pada siang atau malam hari.
Suatu hari Tembi berkesempatan mencoba kuliner bubur gudeg di warung gudeg Bu Rus yang memiliki nama lengkap Rusmini (56). Tembi memesan bubur gudeg lengkap dengan lauk tahu, krecek, dan sebutir telur. Saat Tembi cermati, ada tambahan kuliner lain selain gudeg dan asesori itu, yakni daun papaya. Untuk bubur gudeg dengan kelengkapan seperti itu Tembi cukup membayar Rp 8.000, dan segelas teh panas Rp 1.000.
Sensasi makan bubur gudeg tidaklah sama dengan bubur ayam. Bubur gudeg bisa juga berasa pedas jika diberi lauk sambel goreng krecek. Rasa gurih bubur gudeg ditimbulkan oleh santan yang menjadi cairan utama dalam mengolah bubur. Beda dengan bubur ayam yang minim santan sehingga terasa lebih hambar.
![]() |
| Bu Rus bersama suaminya, Sukoco, siap melayani konsumen |
Rasa gurih bubur gudeg ini akan semakin lengkap dengan kucuran kuah opor yang disebut areh oleh orang Jawa. Kuah sambel goreng krecek yang pedas akan menohok tenggorok dengan sensasi nyos yang membuat syaraf seperti terbangunkan di pagi hari. Mungkin karena itulah bubur gudeg sangat cocok untuk kuliner sarapan pagi.
Gudeg yang kuat pada rasa manis (sedikit samar rasa asinnya) menjadi hentakan rasa lain pada dominasi rasa gurih bubur dan areh. Daun papaya yang tidak pahit memberikan sentuhan kesegaran yang dapat menjadi penawar dari rasa eneg karena dominasi areh yang gurih.
Bagi Tembi areh yang disantap di warung Bu Rus terasa kurang kental dan rasanya masih kurang mengigit. Tekstur gudegnya juga terasa masih kurang “mlonyoh”. Namun semua itu mungkin juga berkait dengan selera masing-masing.
Telur yang dimasak opor semalaman menjadikan telur tersebut relatif keras dan tidak “mblenyek” ketika dipecahkan di piring. Telur yang demikian ini dikenal dengan istilah “gempi”. Krecek atau krupuk kulit yang “kiyel-kiyel” melengkapi sensasi bersantap pagi. Bubur memiliki efek adem di perut, tidak “mrongkol” seperti halnya nasi. Jadi memang pas untuk suasana pagi ketika usus belum lagi menggeliat dengan kekuatan penuh.
Bubur gudeg bisa dikatakan hanya bisa dinikmati pagi hingga menjelang siang hari. Bubur ini akan lebih nikmat disantap ketika masih panas karena memberikan efek “kemepyar”.
Warung Bu Rus biasanya buka pukul 05.30-10.00 WIB. Jadi bagi yang ingin menikmati bubur gudeg harap datang tidak lebih dari jam itu. Selepas itu Anda akan kesulitan menemukan sensasi bubur gudeg. Warung gudeg Bu Rus tutup total di bulan Ramadan dan hari Lebaran. Bu Rus yang asli warga Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul, dalam berjualan selalu didampingi suaminya, Sukoco. Bu Rus mulai merintis jualan gudeg sejak 1997.
![]() |
| Warung gudeg Bu Rus dilihat dari Jl. Parangtritis |
Selasa, 22 Juli 2014
Bakmi Jawa Pak Rebo di Jalan Katamso
![]() |
| Bakmi nyemek khas Pak Rebo |
Ada banyak penjual kuliner bakmi Jawa, atau sering ditulis bakmi jowo, di Yogyakarta. Ada penjual yang mengambil lokasi di tengah kota, seperti bakmi Kadin, bakmi Babilon, bakmi mbah Hadi, bakmi Pak Rebo atau di tengah dusun dan dikenal luas seperti bakmi mBah Mo, yang berada di Dusun Code, Bantul.
Salah satu penjual atau warung kuliner bakmi Jawa yang di tengah kota, tepatnya di Jalan Brigjen Katamso, adalah Bakmi Jawa Pak Rebo. Letaknya, hanya sekitar 1 km dari Keraton Yogyakarta dan hanya kira2 200-an meter sebelah timur dari benteng yang mengelilingi keraton.
Warung Bakmi Pak Rebo nyaris tidak pernah sepi pembeli. Saat Tembi datang ke warung itu akhir November lalu sekitar pukul 20.00 sudah menunggu lebih dari 10 orang. Tetapi, meski menunggu antrian, pesanan tak butuh waktu lama untuk tersaji, karena ada dua anglo dan wajan untuk memasak pesanan.
Pesanan minuman berupa teh jahe panas, seperti biasa disajikan lebih dulu. Panas airnya mendidih, bukan diambil dari termos, sehingga jahenya matang. Rasa hangat jahe dan panas air teh segera mengalir ke tubuh, dan beberapa sruputan, tubuh menjadi semakin hangat dan mulai berkeringat.
Satu piring kuliner bakmi Jawa nyemek, tanpa kepala ayam, sayap, dan jeroan pun segera terhidang. Cukup bakmi nyemek, disertai daging suwiran. Telornya memang khas bakmi Pak Rebo, ialah telor bebek.
Rasa gurih bakmi sangat melekat. Kuah dan telor telah menyatu, sehingga seperti santan. Perpaduan bumbu bakmi dan telor bebek membuat rasa gurihnya sangat kental dan seolah terus terbawa sampai ke rumah.
Kuliner Bakmi Jawa Pak Rebo memang sudah lama. Pada spanduk yang ditempel di dinding ruang makan, tertulis sejak tahun 1940, dan sekarang diteruskan oleh generasi kedua. Jadi Bakmi Pak Rebo bisa disebut memiliki ‘rasa warisan’ dari pendahulunya. Harga sepiring bakmi hanya Rp 15.000, dan porsinya cukup besar, sehingga sekali makan, perut langsung terasa kenyang.
Bersumber dari : Tembi.Net
Jumat, 07 Oktober 2011
Kuliner Mie aceh Ada di Kota Yogya
Tapi di Yogya tidak hanya ada mie Jawa, namun ada juga jenis kuliner dari daerah lain, ialah dari Aceh. Maka, di Yogya dikenal ada mie Aceh. Nama warungnya atau rumah makannya, ‘Bungong Jeumpa’. Lokasi rumah makan ini ada di jalan Monginsidi no 48 B. Persisnya dibelakang Borobudur Plaza. Dari jalan Magelang, akan ditemukan Borobudur Plaza dan arah jalan ke timur merupakan jalan Monginsidi. ‘Bungong Jeumpa’ ada di lokasi ini. Mudah diakses.
Meski namanya mie, tetapi ada yang membedakan dengan mie Jawa. Atau setidaknya, keduanya mie Jawa dan mie Aceh tidak bisa saling diperbadingkan, karena masing-masing memiliki rasa yang berlainan. Apalagi bumbunya juga tidak sama. Jadi, masing-masing memiliki kualitas berbeda, dan sama-sama mempunyai penggemar.
Pada mie Aceh ada rasa pedas, tanpa harus meminta cabe disertakan, mie Aceh sudah pedas. Mungkin karena ada mricanya yang membuat pedasnya terasa. Yang menarik lagi, pada mie Aceh disertai tauge dan kacang, sehingga rasa pedasnya berpadu dengan rasa gurih kacang. Ramuan rempah-rempah pada mie Aceh sangat terasa, dan rasa
Pilihan mienya macam-macam, meski dari banyak mie yang ditawarkan, sebenarnya ada tiga jenis mie, sebagaimana mie Jawa ialah mie goreng, mie rebus dan yang ketiga mie nyemek. Pada mie Aceh dikenal dengan istilah/sebutan mie tumis. Yang membedakan dari mie Jawa pada variasi sayur yang menyertai. Pada mie Aceh selain ada tauge disertai lalapan mentimun dan brambang iris, serta kerupuk. Pada mie Jawa lalapannya berupa acar. Variasi lainnya pada jenis daging, sea food, sapi, babad dan lainnya. Jadi, pada list menu ada sajian tawaran mie Aceh sea food, mie Aceh sapi, mie Aceh babad dan seterusnya.
Kuliner Tembi, Jum’at (30/9) siang lalu menyempatkan mampir ke rumah makan ‘Bungong Jeumpo’ untuk mencoba memesan mie Aceh dan memilih mie aceh sapi. Berulangkali melewati ru
Mungkin menggunakan bumbu rempah-rempah, yang membuat mie Aceh memilik rasa berbeda dengan lainnya. Mengunyah mie Aceh, kunyit dan kapulogonya terasa, dan rasa gurihnya kayaknya berasal dari kaldu sapi.
Rumah makan khusus menyediakan kuliner Aceh ‘Bungong Jeumpa’ ini sudah cukup lama di Yogya, kira-kira sudah 7 tahun yang lalu. Selain mie, tersedia menu rendang, pepes, martabak dan lainnya. Pendeknya, bermacam khas kuliner Aceh disediakan untuk dipilih dan orang yang bukan dari Aceh bisa ikut menikmati, atau setidaknya mencicipi untuk seterusnya bisa datang menikmati lagi.
Setiap hari dari pagi mulai pkl 08.00 rumah makan Aceh ini sudah mulai buka dan tutup malam hari pukul 22.00. Jadi, sekitar 13 jam rumah makan ‘Bungo Jeumpa’ ini melayani pelanggannya, yang rasanya tidak hanya orang dari Aceh. Tetapi orang Yogya pun ada yang menyukai kuliner dari Aceh.
Ons Untoro
Bersumber dari: tembi.net
Label:
kacang,
kunyit,
merica,
mie aceh,
mie goreng,
mie jawa,
mie rebus,
tauge,
yogyakarta
Langganan:
Postingan (Atom)










