Rabu, 28 Januari 2015

Sekali "Nyedot" Mi Janda Bakal Ketagihan



BICARA janda memang tak ada habisnya. Apalagi yang satu ini, Mie Janda Margonda. Tak akan habis ceritanya, karena semakin "disedot" mi-nya semakin banyak ceritanya. Tak percaya? Coba saja.

Mi Janda yang terletak di Jalan Raya Margonda, Pondok Cina, Depok atau di seberang kampus Gunadarma itu memiliki resep khusus. Baik itu dalam pembuatan kuahnya dan mi-nya. Kuah dengan rasa hangat dan gurih serta wangi karena dicampur jahe, pala dan kaldu membuat santap mi pun menjadi bergairah.

Belum lagi campuran tahu, dua telur puyuh rebus, dan baso daging sapi menjadikan kuah yang terpisah dengan mi itu mengandung protein dan lemak yang membuat tubuh pun semakin bertenaga. Seperti terlihat pada menu Mi Janda Super yang menjadi favorit para pembeli.

Mi yang terbuat dari tepung terigu yang dicampur telur terasa lembut di lidah sehingga mulut pun tak hentinya menyedot mi tersebut. Rasa daging ayam di mi tersebut pun terasa begitu gurih. Unsur vitamin dan serat pun diperoleh dari sayuran caisim.

"Berani memang rasanya. Enak, makan satu mangkok saja sudah kenyang, tapi pengen lagi," kata Yanti (27) warga Pancoran Mas, Depok, beberapa waktu yang lalu.

Asisten Supervisor Mie Janda Margonda. Dwi Yudianto menjelaskan, perbedaan mi janda dari mi ayam lainnya adalah bumbu dan pelayanannya. Bumbu mi ayam merupakan resep tersendiri yang dipasok dari Ciriung, Cibinong, Kabupaten Bogor.

"Kuncinya di bawang putih dan tidak pakai MSG. Kami lebih banyak gunakan bawang putih biar lebih wangi dan gurih. Untuk menghilangkan bau daging ayam maka kuah pun dicampur dengan pala," katanya.

Dwi menjelaskan, merek jualan mi janda bukan diperuntukan bagi janda atau menyatakan mi ayam tersebut dibuat oleh janda melainkan janda itu singkatan. Kepanjangan "janda" adalah Jawa-Sunda. Para pemilik merk mi janda ini merupakan orang Jawa dan Sunda. Keempat pemiliknya yaitu Acoy El Haris (38) dari Sunda dan Suwito (39), Saiful Ahmad (40), dan Ahmadun (37) dari Jawa.

"Mereka ini temanan saat kerja di Astra. Mereka pun keluar dan mendirikan usaha kuliner. Karena mereka dari Jawa dan Sunda makanya dikasih nama Janda. Selain itu juga untuk menarik konsumen. Bumbunya pun perpaduan bumbu Jawa dan Sunda. Pertama kali berdiri di Bogor tahun 2008," paparnya.

Dwi menambahkan bahwa untuk mengentalkan nama Janda maka dinding kios pun didominasi warna ungu. Kemudian untuk menimbulkan kesan ceria warna ungu pun dipadu dengan warna kuning. Selain mi janda tersedia juga kwetiau dan bihun mi janda. (Dody Hasanuddin/Dian Anditya Mutiara - travel.kompas)

Selasa, 30 Desember 2014

Sega Bancakan dan Es Setup Rosella

Sega Bancakan: ayam kampung, areh dan gudangan.
Menu sehat yang lezat
Kuliner tradisional Jawa tak terpisahkan dari Warung Dhahar Pulo Segaran. Kuliner bernuansa tradisioanal memang menjadi andalan yang sering dicari pengunjung warung ini. Apalagi setiap bulannya selalu muncul menu-menu modifikasi baru yang menggoda untuk dicicipi. Pada bulan Desember ini misalnya, muncul kuliner baru Sega Bancakan dan Es Setup Rosella.

Sega Bancakan sangat kental bernuansa Jawa, dengan komponen utama sega abang (nasi merah), ayam kampung, kuah areh, yang dilengkapi dengan krupuk gendar dan gudangan. Areh hadir sebagai primadona yang secara signifikan membentuk rasa.

Rasa gurih ayam kampung disangatkan oleh gurih areh, yang terbuat dari santan kelapa. Areh biasanya dipasangkan dengan gudeg. Namun dipadu dengan nasi merah yang cenderung hambar dan bertekstur keras ternyata cocok. Ditambah lagi dengan gudangan yang cenderung manis dan gurih. Rasa yang muncul lewat bumbu gudangan berupa parutan kelapa dan aneka sayur seperti bayam, wortel, kubis dan tauge. Komponen klasik seperti bawang merah, bawang putih, salam, laos, sereh, daun jeruk, dan gula jawa menguatkan aroma tradisionalnya.

Menu ini relatif sehat. Ada gudangan, yakni sayur yang dikukus. Ada nasi merah yang antioksidan dan seratnya jauh lebih tinggi ketimbang nasi putih. Kandungan seleniumnya bermanfaat untuk mencegah kanker dan penyakit degeneratif lainnya. Kandungan vitamin dan mineralnya, terutama B1 (thiamin) serta kalsium dan fosfor, lebih tinggi ketimbang beras putih. Selain itu, ayam yang dipakai adalah ayam kampung, yang lebih sehat daripada ayam broiler karena lebih bebas antibiotik. Ayam kampung juga mengandung hemoglobin yang tinggi, serta mempunyai kandungan mineral lebih lengkap.

Es Setup Rosella yang sehat menyegarkan
Bersama Sega Bancakan, minuman Es Setup Rosela ikut menemani. Nama rosella sempat mencuat pada pertengahan tahun 2000an. Utamanya karena khasiat kesehatan yang dikandungnya. Rosella mampu menjadi antioksidan hebat untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh. Karena kadar vitamin C dan beta karotennya tinggi. Rosella juga mengandung kalsium yang tinggi yang baik untuk kesehatan tulang. Selain itu, rosella bermanfaat dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Tanaman ini dipetik dari halaman Tembi Rumah Budaya, yang kian disemarakkan tanaman herbal.

Es Setup Rosella yang disajikan dalam tampilan warna merah dan kuning cukup menggugah selera. Rosella dan sirup berwarna merah, nanas berwarna kuning, kolang kaling dan biji selasih menghiasi isi gelas. Rasa rosella yang sedikit asam menimbulkan sensasi yang menyenangkan, yang diperkuat rasa nanas. Berpadu dengan rasa manis sirup dan “penetral” kolang kaling dan selasih. Efeknya menyegarkan, dan tentu saja, menyehatkan.

Sega Bancakan dibandrol dengan harga Rp 27.000. Sedangkan Es Setup Rosella Rp 8.100. Harga yang tergolong standar. Bolehlah dicoba.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Minggu, 30 November 2014

Mari Mencicipi Sambal Belut



Kuliner dari daging belut memang belum populer. Tapi, bukan berarti hidangan dari ikan bertubuh panjang seperti ular dan licin itu tak bisa disulap menjadi sajian nan nikmat. Misalnya, sambal belut dan belut goreng.

Penasaran, dong, ingin mencicipi? Nah, kalau Anda sedang berlibur atau bertugas ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ke Warung Sambel Welut Pak Sabar. Kedai milik Sabar yang berdiri tahun 1996 silam ini terletak di Jalan Imogiri Barat KM 6 Dokaran, Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Tak terlalu sulit menemukan kedai yang buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam ini. Dari pusat Kota Yogyakarta, arahkan saja kendaraan Anda ke selatan menuju Pojok Benteng Timur. Jika datang dari Jalan Brigjen Katamso, belokkan kendaraan Anda ke kiri. Di pertigaan pertama, belok kanan masuk ke Jalan Sisingamangaraja. Susuri jalan ini hingga bertemu Jalan Lingkar alias Ringroad Selatan.

Dari situ, Anda masih harus berjalan lurus ke selatan sekitar 1,5 kilometer. Lalu, belokkan kendaraan Anda masuk ke gang keempat yang berada di sisi kiri. Setelah menyeberang jembatan, Anda akan menemukan papan nama bertuliskan Warung Sambel Welut Pak Sabar di dekat masjid yang ada di sebelah kanan jalan. Kedai tersebut agak menjorok ke dalam, tak jauh dari masjid.

Bangunan kedai ini sebetulnya biasa saja, jauh dari kesan mewah. Dindingnya terbuat dari kayu dan bambu. Di dalam kedai, tersedia belasan kursi dan meja panjang yang bisa menampung pengunjung lebih dari 50 orang. Meski sederhana dan letaknya agak terpelosok, dari pigura foto yang terpajang di dinding, Anda bisa tahu, tak sedikit selebritas yang pernah singgah ke kedai ini.

Sesuai namanya, hidangan favorit kedai ini adalah sambal belut. Tentu, tak lengkap menikmati sambal belut tanpa belut goreng ataupun oseng belut cabai hijau. Dan, Sabar mematok harga hidangan bukan dalam satuan porsi, melainkan dalam satuan kilogram bobot belut hidup. Untuk semua hidangan, harganya sebesar Rp 75.000 sekilogram.

Cuma, Anda tak harus memesan satu hidangan hingga satu kilogram, lo. Kalau cuma berdua, Anda bisa, kok, memesan sambal belut satu porsi yang biasanya dibuat dari tiga ons belut. Namun, khusus oseng belut, Anda harus memesan minimal 0,5 kg belut.

Pakai tungku kayu

Setelah memesan, Anda harus rela menunggu cukup lama. Maklum, belut yang dihidangkan di kedai ini merupakan belut segar. Setelah Anda memesan, barulah Sabar mengolah belut yang masih hidup untuk dijadikan hidangan spesial sesuai pesanan. Tapi, kalau tak ingin menunggu terlalu lama, Sabar menyarankan, Anda memesan lewat telepon terlebih dahulu. Soalnya, “Kalau sedang ramai, pengunjung bisa menunggu hingga dua jam,” ungkap Sabar.

Setelah matang, sambal belut bersama belut goreng dan oseng belut yang masih hangat bakal tersaji di meja, ditemani lalap mentimun, daun kemangi, dan daun bayam rebus. Oseng belut yang bertabur potongan tomat dan sayuran tampak menarik. Namun, belut gorengnya juga tak kalah menggoda.

Tentu saja, yang pertama mesti dinikmati adalah menu andalan racikan Sabar: sambal belut. Warna hidangannya memang tampak pucat, meski berhias gerusan cabai merah dan cabai hijau. Namun, saat sampai di mulut, rasanya sungguh menggugah selera.

Rasa gurih dari daging belut berpadu dengan rasa pedas nan segar. Sangat nikmat disantap bersama nasi yang masih hangat. Mantap. Oh, iya, Anda bisa memesan tingkat kepedasan sambal belut sesuai selera.

Sebetulnya, Sabar menjelaskan, bumbu sambal belut buatannya biasa saja, lantaran terbuat dari bawang, garam, cabai. Yang bikin istimewa, Sabar menambahkan kencur untuk menghasilkan aroma dan rasa yang segar.

Selain itu, proses memasaknya juga beda. Pertama-tama belut digoreng setengah matang lalu diambil dagingnya. Kemudian, daging belut ditumbuk bersama bumbu. “Kalau orang lain, daging tidak dipisah sehingga tulang belut ikut ditumbuk,” katanya.

Tentu, sayang membiarkan belut goreng tergeletak begitu saja. Apalagi, dagingnya begitu empuk. Rasanya gurih dan nikmat. Cocok menjadi teman sambal belut. Daging belut goreng itu juga tak bau amis karena Sabar menambahkan kunyit ke dalam bumbunya.

Oseng belut bikinan Sabar juga tak kalah nikmat. Perpaduan rasa gurih dan manis yang menyegarkan bakal memanjakan lidah Anda. Oh, iya, semua hidangan racikan Sabar dimasak menggunakan tungku kayu. Cara ini sengaja dipilih Sabar agar hidangannya menghasilkan rasa yang lebih nikmat dan bebas dari bau minyak.

Untuk teman makan, ada teh manis dengan gula batu yang bakal menyegarkan kerongkongan Anda. Jadi, silakan mampir ke kedai ini saat Anda pergi ke Yogyakarta.

(Herry Prasetyo/Sumber: Mingguan KONTAN)

Jumat, 14 November 2014

Lotek Bu Nur



Seperti halnya kuliner gudeg yang terkenal di Yogya, kuliner yang satu ini pun tidak kalah enaknya yaitu lotek yang mudah ditemukan di Yogya. Dibanyak tempat, apalagi malam hari, menemui gudeng mudah untuk dicari. Berbeda dengan lotek, yang buka pada siang hari. Biasanya, jam 9 warung lotek sudah buka, meski siang hari pelanggan baru pada datang. Biasnya, sore hari, pukul 5, atau bahkan pukul 4, warung lotek sudah tutup.

Ini ada warung lotek yang telah memiliki pelanggan, dan tidak hanya menyediakan lotek, tetapi ada jenis menu sayuran lain. Yang tidak ketinggalan menu gado-gado. Maka, warungnya dikenal dengan nama ‘’Warung Lotek-Gado-gado ‘Bu Nur’”. Lokasinya di jalan Parangtritis Km 7, dekat dengan kampus ISI (Institut Seni Indonesia), Yogyakarta.

Berulangkali, kuliner ‘Tembi’ telah mampir di warung ‘Bu Nur’ ini dan pesannya selalu sama, lotek, cabainya satu saja. Namun, sesekali pernah juga mencoba gado-gado. Minuman  LOTEK BU NURkhas, juice sirsak atau juice jambu. Pilihan menu dan minuman, menambah rasa segar di tubuh.

Saat siang hari, pada jam makan siang, warung ‘Bu Nur’ penuh pelanggan. Tidak jarang antri cukup banyak. Namun begitu, tidak menunggu terlalu lama, meski pelanggan banyak yang datang. Kebanyakan anak-anak muda. Biasanya pula mengambil tempat duduk lesehan. Namun bukan berarti warung ‘Bu Nur’ monopoli anak-anak muda. Orang dewasa, yang suka pada lotek, mudah sekali dilihat menikmati lotek atau gado-gado di warung ‘Bu Nur’ ini.

Terhadap kuliner ‘Tembi; penjualnya seperti sudah hapal apa yang akan dipesan. Mungkin karena selalu menu dan minuman sama yang dipesan, setiap kali ke warung ‘Bu Nur”.

“Juice sirsaknya habis’ begitu kuliner masuk warung dan mendekati penjaga warung

“Ya, juice jambu biji” kata kuliner Tembi

‘Tanpa es ya” tanya pelayan warung‘Begitulah” kata kuliner Tembi. Dan sama-sama tertawa.



Rasa lotek di warung ‘Bu Nur’ ini memang ‘joss’. Meski sudah berkali-kali makan lotek, tidak membuatnya bosan. Selalu saja, dalam jarak waktu tertentu ingin kembali ke warung lotek ini, untuk menikmati lotek, dan tentu saja juice. Bumbu kacangnya memang betul-bentul bumbu kacang yang ditumbuk di cowek. Perempuan yang menyiapkan pesanan lotek seperti sudah terbiasa menumbuk kacang, sehingga cepat sekali kacang berubah menjadi lembut. Teman lainnuya sudah menyiapkan sayuran lotek dan tinggal dimasukkan ke cowek yang sudah ada bumbunya. Jadi, dengan cepat pesanan lotek diantar pada pemesan.

Selain pelanggan yang makan di warung, ternyata tidak sedikit pelanggan yang memesan dan dibungkus untuk dibawa pulang. Karena itu, meski di warungnya hanya ada 2-3 orang yang sedang makan, penjualnya tidak berhenti menumbuk/menguleg kacang di cowek dan teman lainnya menyiapkan sayuran,  sebab pembeli yang memesan akan mengambil jika pesanan selesuai dibuat.



Selain gudeg, lotek merupakan jenis menu ‘khas’ Yogya yang lain. Dibanyak tempat di Yogya, penjual lotek tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Asal bukan malam hari. Sebab, warung lotek, sore hari biasanya sudah tutup. Warung lotek yang memiliki banyak pelanggan, biasanya membuka cabang di beberpa tempat di Yogya, salah sattunya warung lotek Colombo, yang membuka cabang di beberapa lokasi. Warung lotek ‘Bu Nur’ inipun ada tulisan ‘cabang Colombo’. Ini artinya, lotek ‘Bu Nur’ merupakan lotek cabang Colombo yang sudah cukup dikenal di Yogyakarta.

Kita tahu, adalah lotek jenis menu yang sedikit sekali menggunakan minyak goreng, kecuali pada bumbu kacang, kerupuk sebagai kelenngkapan lotek dan bakwan goreng, yang diiris-iris dan dicampur dengan lontong dan sayuran.

Maka, kalau ke Yogya, jangan lewatkan lotek.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Senin, 03 November 2014

Rasa Pekat Gudeg Yu Narni yang Lezat

Gudeg krecek suwir pakai telur
Bicara tentang kuliner khas Yogyakarta tak bisa lepas dari kuliner gudeg. Bicara tentang gudeg tidak bisa mengabaikan kawasan Barek, Sleman. Dan bicara tentang gudeg Barek tak bisa melewatkan nama Yu Narni, salah satu dari tiga produsen gudeg besar di daerah ini, di samping Yu Djum dan Hj Amad. Gudeg Yu Narni adalah milik bu Narni Suwardi, yang memang berasal dari Barek --atau dalam lidah Jawa, mBarek.

Gudeg Yu Narni memang memiliki cita rasa yang memadai dengan kepopulerannya. Mungkin karena rasa gudegnya yang tergolong pekat, atau dalam istilah beberapa orang, ‘medok’. Rasa ‘medok’ ini terasa pada semua komponen gudegnya, termasuk areh, krecek, bahkan telur pindangnya. Selain bumbunya meresap, bahannya juga dari ayam kampung dan telur bebek, sehingga rasanya lebih mencuat. Dengan demikian cita rasanya memang lebih mantap dan lebih lama menetap di lidah. Rasa gudegnya tidak terlalu manis, ini mungkin juga salah satu kekhasannya. Ada sedikit asin yang menambah rasa nikmatnya.

Mas Dony, putra bu Narni, yang membantu mengelola
cabang di Jalan Magelang
Gudegnya tergolong gudeg kering. Awalnya, kata Dony Sukma Anggara (32 tahun), putra bu Narni (56 tahun), gudeg buatan kakek dan ibunya masih berupa gudeg basah. Namun dengan pertimbangan ekonomis, ibunya beralih ke gudeg kering yang memang lebih awet. Gudeg kering Yu Narni bisa bertahan 24-36 jam. Di Yogya penjual gudeg kering kini memang jauh lebih banyak dibanding gudeg basah.

Yang juga jelas awet adalah usia usaha gudeg yang dirintis keluarga bu Narni. Diawali oleh Mbah Wito yang menjajakan gudegnya dengan digendong pada sekitar tahun 1945. Menurut Dony, eyangnya berjualan dari Barek sampai sekitar Tugu. Kemudian Mbah Wito mendirikan warung gudeng di Kebon Dalem yang cukup laris, dibantu anaknya, bu Narni, yang saat itu masih kanak-kanak.

Menjelang akhir 1970-an terjadi estafet antar generasi dari Mbah Wito ke Bu Narni. Nama warung gudeg Mbah Wito perlahan kemudian berubah menjadi Yu Narni. Papan nama yang mencantumkan nama keduanya masih dapat dilihat di dalam warung di Kebon Dalem, di belakang etalase. Tertulis di sana: “Gudeg yang Pertama, ‘Bu Wito/Narni’ (Asli dari Mbarek), Telp. 543713, Buka: 06.00 – 21.00.”

Papan nama gudeg di Kebon Dalem jaman dulu, masih memakai
dua nama: “Bu Wito/Narni”
Karena semakin laris dan dikenal, pada tahun 1990-an Bu Narni membuka warung gudeg di rumahnya di Jl. Kaliurang Km 4,5. Awalnya, kata Dony, ibunya juga menjual nasi ramesan, selain gudeg. Namun kemudian khusus hanya menyediakan gudeg, yang memang terbukti ampuh kehandalannya.

Bu Narni kemudian membuka cabang lagi dengan bantuan anak-anaknya. Pada tahun 2002, tutur Dony, bu Narni membuka cabang di Magelang tapi hanya bertahan dua tahun. Setahun kemudian, pada 2003, cabang di Jalan Palagan Tentara Pelajar dibuka, dibantu si sulung Dedi. Lantas pada 2011 giliran cabang di Jalan Magelang Km 11 Tridadi dibuka, dibantu Dony. Sedangkan Dyah, anak ketiga bu Narni, membantu ibunya di Barek. Adapun warung di Kebon Dalem, karena kecil dan sederhana, ditunggu oleh stafnya.

Meski banyak cabang, semua gudegnya dimasak dan diolah di Barek, lantas didistribusikan ke semua cabang. Dengan demikian cita rasanya tetap standar dan kualitasnya terjaga.

Saudara-saudara bu Narni juga terjun di bisnis gudeg. Menurut Dony, dari enam anak mbah Wito, empat orang di antaranya melanjutkan usaha gudeg. Gudeg Campur Sari yang populer dengan nama Gudeg Batas Kota, misalnya, adalah milik kakak bu Narni. Bahkan jika dirunut ke atas Yu Djum dan Mbah Wito masih bersaudara karena, kata Donny, Yu Djum adalah adik mbah Wito putri, jadi adik ipar mbah Wito kakung.

Panci-panci gudeg, areh, telur pindang dan krecek
Harganya juga tergolong murah, atau setidaknya, standar. Gudeg krecek/telur Rp 8.000, gudeg telur/tahu Rp 9.000. Jika dilengkapi ayam suwir/sayap Rp 10.000, ati ampela Rp 13.000, kepala/paha Rp. 14.000, paha atas/dada Rp 24.000.

Jam buka warung gudeg Yu Narni berbeda-beda meski selisihnya sedikit. Yang paling pagi dan lama jam bukanya adalah warung pusat di Barek buka pukul 05.00 sampai pukul 21.00. Warung di Kebon Dalem, pukul 05.30 – 20.30. Dan warung di jalan Magelang, pukul 06.00 – 19.00. 

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya



Selasa, 07 Oktober 2014

Soto Blitar yang "Djiancuk"



Nama warungnya cukup mengejutkan: “Djiancuk”. Ditulis dalam kombinasi ejaan lama dan baru. Diembel-embeli “Soto Khas Jawa Timur”, nama warung ini mengingatkan pada umpatan khas orang Jawa Timur, ‘jancuk’, yang jika disangatkan lantas menjadi ‘jiancuk’. Namun umpatan ini bagi orang yang telah saling kenal atau dekat justru merupakan ekspresi keakraban. Menurut pemiliknya, Parjinah (45 tahun), nama ini dipilih Widodo, suaminya yang asal Blitar, memang sebagai ekspresi keakraban. Yang jelas, sebagai ‘shocking word’, pemilihan nama ini memang gampang menancap dalam ingatan.

Warung ini, kata Parjinah, menyediakan kuliner soto khas Blitar, sesuai kampung halaman Widodo. Menurut perempuan asal Jogja ini, resep sotonya diperoleh dari nenek Widodo. Ibu Widodo sendiri juga membuka warung serupa di Nganjuk. Soto Blitar memang sama dengan soto Nganjuk dan soto Kediri namun berbeda dengan soto Jawa Timur lainnya seperti soto Lamongan atau soto Ambengan.


Soto Blitar yang disajikan di warung ‘Djiancuk’ kuahnya berwarna gelap, berbeda dengan kuah soto Lamongan yang bening. Maklum saja ada banyak bumbu yang diracik di dalam kuahnya. Misalnya saja ketumbar, kemiri, kunyit, sereh, bawang merah dan bawang putih. Ketumbar dan kemiri menguatkan rasa gurihnya. Masih ditambah gurihnya santan yang kentalnya sedang. Dipadu dengan capar atau toge mentah yang segar, irisan tipis kentang goreng dan irisan telur ayam rebus, plus potongan daging sapi, komplitlah sudah. Apalagi jika dibubuhi sambal dan kucuran jeruk nipis, tambah mantaplah. Rasa pedas merica juga kuat menyengat. Kalau orang bilang, keseluruhan rasa sotonya ‘menggigit’.

Parjinah menyiapkan sotonya di sebuah rombong (pikulan) ala tanduk sapi. Wadah-wadah berisi kentang goreng, bawang goreng, capar, dan seledri disusun berjejer. Di sisinya sebuah panci besar berisi kuah racikan bumbu yang disiapkannya sejak jam 3 pagi. Ketika Parjinah menuangkan botol kecap terdengar bunyi ‘klinting-klinting’ yang berasal dari lonceng kecil di leher botol.


Soto dihidangkan dalam mangkuk kecil seperti takaran porsi soto Kudus. Hmm..gurih dan segar. Disantap panas-panas dengan sengatan merica dan imbuhan sambal, bisa-bisa keluar komentar, “jiancuk..rasane uenak tenan.” Keringat ikut menetes. Untuk menemani disediakan pula sate ayam, sate keong, rambak dan krupuk. Harga seporsi soto cukup terjangkau yakni Rp 8.000.

Interior warung ini juga khas. Meja bundar, yang lebih mirip sebuah rol kayu besar, berdiameter sekitar 1,5 meter ditempatkan di tengah ruangan. Bagi yang ingin lesehan, ada lincak kayu di sisi kiri dan kanan ruangan. Hiasan gerabah berbentuk sepatu dan botol melengkapi aksesoris ruang. Dipajang pula foto-foto Soekarno, presiden pertama yang dimakamkan di Blitar. Tak ketinggalan poster pameran lukisan Widodo ikut dipajang.


Widodo memang seorang pelukis. Lelaki kelahiran tahun 1965 ini adalah jebolan pascasarjana ISI Yogyakarta. Dulu, kata Parjinah, lukisan-lukisan suaminya dipajang di dinding warung tapi sekarang semuanya sudah laku terjual. Lukisan-lukisannya kini ditaruh di ruang belakang. Calon pembelinya yang kebanyakan orang asing, menurut Parjinah, masih sering datang. Para penikmat sotonya juga banyak dari kalangan seniman dan dosen ISI Yogyakarta. Jadi selain kuliner, atmosfir seni rupa juga ikut mewarnai warung ini. Anak sulung Widodo juga tengah mengambil jurusan lukis di ISI yang kini menginjak semester keempat.

Warung yang didirikan pada tahun 2000 ini lokasinya di Sonopakis, bersebelahan dengan Kali Bayem. Ancer-ancernya kalau dari jalan Patangpuluhan terus ke barat, melewati Universitas PGRI, sampai jalan menurun di dekat Kali Bayem. Jika ada mobil-mobil tua berderet di sisi kiri jalan berarti Anda sudah sampai di tujuan. Ada teras tempat lesehan di dekat pohon talok. Secara keseluruhan, kesan agak kumuh dari warung ini memang tak terhindarkan tapi sekaligus juga mengesankan kebersahajaan.

Warung soto, seperti juga warung mi ayam, cukup dominan di Jogja. Tapi warung soto khas Jawa Timur jarang ditemui. Apalagi soto Blitar seperti soto Djiancuk ini mungkin masih satu-satunya di Jogja.


Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya




Minggu, 28 September 2014

Gubug Makan Iwak Kalen

Namanya ‘Gubug Makan Iwak Kalen’. Lokasinya masuk dari jalan raya. Persisnya di jalan Godean Km 9. Papan nama yang dipasang pada pertigaan masuk dusun tertulis ‘Gubug Makan Iwak Kalen’ masuk 1 menit. Kalimat 1 menit, agaknya merupakan kata ganti 1 km. Karena memasuki arah menuju warung ini sekitar 1 km. Lokasinya ada di jalan Goedan km 9, Gg Mandungan, Nggenitem, Sidoagung, Godean, Sleman, Yogyakarta.



Warungnya terbuat dari bambu, sehingga memberikan kesan warung ndeso. Tersedia lesehan, atau juga tersedia kursi. Sekitar bangunan warung dikitari sawah. Orang yang ingin menikmati makanan iwak kalen sambil tangannya menggapai padi bisa duduk lesehan dekat sawah. Karena tempat lesehan terbuka dan langsung bersentuhan dengan sawah.

Seperti nama warungnya, kuliner yang disajikan rupa-rupa iwak kalen, seperti kutuk, aneka wader, nila, lele, uceng sili, belut dan sebagainya. Pilhan masaknya bisa berupa gorengm atau mangut, setidaknya pada kutuk, lele, belut bisa dimasak mangut. Tapi pada aneka wader, termasuk uceng sili hanya bisa digoreng. Sayuran dan dan aneka sambal tersedia, tinggal dipilih. Aneka sambalnya gratis: sambal tempe, sambal tomat matang, sambal trasi matang dan lainnya. Sayuran ada harga sendiri, tinggal milih oseng daun papaya, balado terong dan lainnya.

‘Kuliner Tembi’ menyusuri sepanjang jalan Godean, dan sampai pada km 9, pada pertigaan jalan menuju dusun ada spanduk bertuliskan ‘Gubug Makan Iwan Kalen’. Mengambil duduk lesehan yang dekat dengan sawah bersama dua orang teman. Salah satu teman, Darwis Khudori namanya, orang Indonesia yang menetap di Perancis dan kebetulan liburan. Melihat lokasi yang dikitari sawah.

“Wah, sudah lama tidak melihat sawah, apalagi duduk lesehan di tengah sawah” kata Darwis Khudori.

Beberapa menu dipesan sekaligus karena satu porsi menu hanya untuk satu orang. Pilihan menunya kutuk mangut, wader, uceng cili, sambal tempe, sambal terasi, oseng daun papaya dan balado terong, Minumannya kopi hitam, jeruk panas dan capucino. Wader diogereng kering sehingga terasa gurih dimakan, demikian juga uceng cili. Kutuk mangut satu piring berisi tiga kutuk, kuahnya meski kelihatan merah, tetapi tidak terlalu pedas. Makan wader goreng untuk melengkapi kuliner berkuah seperti ketuk mangut, betapa nikmatnya.



Kutuk mangutnya empuk dan tidak alot. Tiga kutuk dalam piring mudah sekali untuk dipotong denga tangan, sehingga memang terasa nikmat makan iwak kalen mengguakan tangan tanpa sendok.

Kalen dan Kali (sungai) dua hal yang berbeda. Kalen lebih kecil dan biasanya airnya diambilkan dari kali (sungai), atau dari sumber lain. Kalau disebutkan ‘iwak kalen’, agaknya untuk memberi kesan eksotik, meskipun menu ikannya diambil dari kali (sungai).

Siang hari,, gubuk makan tampak dikunjungi banyak orang. Mungkin orang merasa kangen makan jenis iwak kalen. Harga masing-masing porsi tidak mahal, hanya berkisar anara Rp 6000 sampai Rp, 7000-an. Dalam kata lain, gubug makan iwak kalen ini, harganya terjangkau.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya