Minggu, 28 September 2014

Gubug Makan Iwak Kalen

Namanya ‘Gubug Makan Iwak Kalen’. Lokasinya masuk dari jalan raya. Persisnya di jalan Godean Km 9. Papan nama yang dipasang pada pertigaan masuk dusun tertulis ‘Gubug Makan Iwak Kalen’ masuk 1 menit. Kalimat 1 menit, agaknya merupakan kata ganti 1 km. Karena memasuki arah menuju warung ini sekitar 1 km. Lokasinya ada di jalan Goedan km 9, Gg Mandungan, Nggenitem, Sidoagung, Godean, Sleman, Yogyakarta.



Warungnya terbuat dari bambu, sehingga memberikan kesan warung ndeso. Tersedia lesehan, atau juga tersedia kursi. Sekitar bangunan warung dikitari sawah. Orang yang ingin menikmati makanan iwak kalen sambil tangannya menggapai padi bisa duduk lesehan dekat sawah. Karena tempat lesehan terbuka dan langsung bersentuhan dengan sawah.

Seperti nama warungnya, kuliner yang disajikan rupa-rupa iwak kalen, seperti kutuk, aneka wader, nila, lele, uceng sili, belut dan sebagainya. Pilhan masaknya bisa berupa gorengm atau mangut, setidaknya pada kutuk, lele, belut bisa dimasak mangut. Tapi pada aneka wader, termasuk uceng sili hanya bisa digoreng. Sayuran dan dan aneka sambal tersedia, tinggal dipilih. Aneka sambalnya gratis: sambal tempe, sambal tomat matang, sambal trasi matang dan lainnya. Sayuran ada harga sendiri, tinggal milih oseng daun papaya, balado terong dan lainnya.

‘Kuliner Tembi’ menyusuri sepanjang jalan Godean, dan sampai pada km 9, pada pertigaan jalan menuju dusun ada spanduk bertuliskan ‘Gubug Makan Iwan Kalen’. Mengambil duduk lesehan yang dekat dengan sawah bersama dua orang teman. Salah satu teman, Darwis Khudori namanya, orang Indonesia yang menetap di Perancis dan kebetulan liburan. Melihat lokasi yang dikitari sawah.

“Wah, sudah lama tidak melihat sawah, apalagi duduk lesehan di tengah sawah” kata Darwis Khudori.

Beberapa menu dipesan sekaligus karena satu porsi menu hanya untuk satu orang. Pilihan menunya kutuk mangut, wader, uceng cili, sambal tempe, sambal terasi, oseng daun papaya dan balado terong, Minumannya kopi hitam, jeruk panas dan capucino. Wader diogereng kering sehingga terasa gurih dimakan, demikian juga uceng cili. Kutuk mangut satu piring berisi tiga kutuk, kuahnya meski kelihatan merah, tetapi tidak terlalu pedas. Makan wader goreng untuk melengkapi kuliner berkuah seperti ketuk mangut, betapa nikmatnya.



Kutuk mangutnya empuk dan tidak alot. Tiga kutuk dalam piring mudah sekali untuk dipotong denga tangan, sehingga memang terasa nikmat makan iwak kalen mengguakan tangan tanpa sendok.

Kalen dan Kali (sungai) dua hal yang berbeda. Kalen lebih kecil dan biasanya airnya diambilkan dari kali (sungai), atau dari sumber lain. Kalau disebutkan ‘iwak kalen’, agaknya untuk memberi kesan eksotik, meskipun menu ikannya diambil dari kali (sungai).

Siang hari,, gubuk makan tampak dikunjungi banyak orang. Mungkin orang merasa kangen makan jenis iwak kalen. Harga masing-masing porsi tidak mahal, hanya berkisar anara Rp 6000 sampai Rp, 7000-an. Dalam kata lain, gubug makan iwak kalen ini, harganya terjangkau.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya


Kamis, 11 September 2014

Spesial Parade Kuliner Vegetarian di Warung Dhahar Pulo Segaran Tembi Rumah Budaya

Pecel Goreng a la Warung Dahar Pulo Segaran Tembi
Bulan September 2014 ini secara spesial Warung Dhahar Pulo Segaran Tembi Rumah Budaya menghidangkan “Kuliner Sehat Kuliner Vegetarian”. Setidaknya ada 6 (enam) kuliner yang dirilis dari rumah makan ini, yakni Besengek Kembang Gedang, Rendang Jamur, Gudangan Kacang Dele, Tumisan Jipang, Pecel Goreng, dan Acar Kuningan. Sementara untuk jenis minuman diluncurkan 4 (empat) jenis, yaitu Jus Nangka Sabrang, Jus Timun Mas, Jus Pare Anom, dan Jus Kacang Panjang Tomat. Melalui kreasi dan sentuhan juru masak atau koki WD Pulo Segaran Tembi semua menu tersebut dijamin nikmat disantap, sehat, sekaligus harganya sangat terjangkau.

Acar Kuningan nan segar
Kembang Gedang (jantung pisang) ternyata memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, di antaranya mengandung serat tinggi, mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke, mengikat lemak dan kolesterol, meningkatkan kesehatan saluran pencernaan, dan membantu pencegahan timbulnya diabetes. Untuk itu Anda tidak perlu ragu untuk memesan kuliner Besengek Kembang Gedang ini. Besengek sendiri adalah makanan khas Jawa dengan bumbu rempah yang cukup serta kuah santan kental yang “nyemek”.

Bagi yang suka rendang namun tidak suka lemak, maka Rendang Jamur boleh menjadi pilihan menu vegetarian sehat lainnya. Rasa rempah Rendang Jamur Pulo Segaran demikian kuat. Selain nikmat bahan jamur yang menjadi andalan kuliner ini juga memiliki khasiat meningkatkan kebebalan tubuh, banyak mengandung vitamin D, melawan kanker, sumber pangan antioksidan, dan mengontrol berat badan.

Tumisan Jipang pun boleh dipilih untuk melengkapi bersantap kuliner vegetarian. Tumisan ini juga sehat mengingat jipang atau labu siam memiliki khasiat menyehatkan jantung dan pembuluh darah, menetralkan racun dalam darah, mengurangi risiko kanker, menjaga kesehatan ginjal, dan banyak mengandung vitamin B.

Gudangan Kacang Dele nan bergizi
Selain itu, Acar Kuningan yang terdiri dari wortel, ketimun, nenas, bawang merah, dan bawang putih jelas memiliki banyak khasiat. Seperti diketahui, wortel merupakan sumber vitamin A yang baik untuk kesehatan mata, antikanker, menyehatkan jantung, pencegah stroke, menyehatkan dan menguatkan gigi, dan pembersih racun. Ketimun sendiri berkhasiat menurunkan tekanan darah, melawan kanker, melawan diabetes, meringankan asam urat dan rematik, dan mengurangi kolesterol.

Nenas yang juga menjadi bahan untuk Acar Kuningan juga memiliki khasiat mengurangi sembelit, mengatasi beri-beri, mengobati cacingan, dan menurunkan berat badan. Sementara bawang merah dan bawang putih memiliki cukup banyak khasiat bagi kesehatan tubuh seperti melancarkan peredaran darah, menambah nafsu makan, antioksidan, menambah kekebalan, mengurangi kemerosotan daya pikir otak, anti kanker, dan lain sebagainya.

Gudangan Kacang Dele adalah urap yang ditaburi kacang kedelai yang digiling. Rasanya memang menjadi berbeda dengan urap biasa. Penyajian yang cantik, olahan yang resik, dan bumbu yang kompak untuk kuliner ini patut dicoba. Untuk khasiat dari kuliner ini jelas diketahui karena bahan-bahannya 90 prosen terdiri dari sayuran.

Tumisan Jipang
Pecel Goreng sajian WD Pulo Segaran patut dicoba pula. Selama ini menu pecel hampir selalu berupa kuliner sayuran yang dikukus atau direbus. Namun untuk Pecel Goreng WD Pulo Segaran disajikan dalam format yang berbeda. Seluruh bahan sayuran yang telah dikukus digulung dulu dalam adonan tepung tipis yang kemudian digoreng dengan waktu sangat singkat namun matang. Usai itu gulungan bahan sayuran dipotong-potong miring dan ditungai bumbu pecel yang pekat dan lezat. Berikut ini daftar menu tersebut beserta harga masing-masing.

  • Kembang Gedang dipatok dengan harga Rp 9.000.
  • Rendang Jamur Rp 12.600.
  • Gudangan Kacang Dele Rp 9.000.
  • Tumisan Jipang Rp 8.100.
  • Pecel Goreng Rp 9.000.
  • Acar Kuningan Rp 7.200.
Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya




Selasa, 09 September 2014

Rica-Rica Bebek


Kuliner rica-rica bebek memang tidak sebanyak kuliner bebek goreng dan bebek bakar. Pada dua jenis kuliner disebut terakhir ini, dibanyak tempat di Yogya, termasuk warung kaki lima mudah ditemukan. Bahkan bisa dikatakan, di area mana saja, kita akan bisa menemukan warung makan yang menyediakan bebek goreng dan bakar. Bahkan ada warung khusus yang hanya menyediakan daging bebek, atau setidaknya image yang dibangun adalah warung bebek goreng.

Namun ada juga, ruang makan, dari sejumlah menu yang disediakan, terdapat satu kuliner yang tertulis ‘Rica-rica bebek’, setidaknya di Quak2 Resto kuliner ini bisa dipesan. Biasanya, daging yang dirica-rica dan ditawarkan di warung, adalah jenis daging ayam atau enthok. Maka, ada warung yang khusus menyajikan kuliner rica-rica enthok.

Lagi-lagi, ‘Kuliner Tembi’ Minggu siang (14/10) lalu berkeliling untuk mencari kuliner, yang mungkin agak unik, atau setidaknya, dari kebanyakan kuliner yang ditawarkan, dengan bahan yang sama, dimasak secara lain. Maka, ketika mendengar ada rica-rica bebek diantara kuliner bebek goreng dan bebek bakar, atau dengan istilah lain bebek sambal ijo, yakni bebek goreng yang dilengkapi sambal cabe hijau, pilihannya jatuh pada rica-rica bebek.

Daging dari rica-rica bebek ini sangat empuk, sehingga tidak kesulitan mengunyah. Hanya saja, kulit dari daging tidak dikelupas, karena itu mengunyah daging sekaligus mengunyah kulitnya. Atau sebenarnya, sebelum mengambil dagingnya bisa mengelupas kulitnya untuk kemudian diletakkan di tepi piring.

Yang khas dari kuliner rica-rica adalah rasa pedasnya. Rica-rica bebek ini, memang sungguh pedas, meskipun sebetulnya kita bisa meminta pedasnya cukupan. ‘Kuliner tembi’ sengaja meminta rica-rica bebek pedas, dan memang, pedasnya sungguh menggigit. Mengambil satu sendok kuah rica-rica bebek, rasa pedasnya membuat mripat berkaca-kaca, dan lidah seperti ‘digigit’. Wow.


Kuliner rica-rica di Yogya tidak sebanyak kuliner lainnya, misalnya ayam goreng, bakmi goreng, bebek goreng, tongseng dan sate. Bakmi Jawa atau bermacam jenis makanan Nusantara lainnya. Di beberapa tempat memang ada warung yang menunya menyediakan rica-rica, tetapi biasanya yang di rica-rica menthok atau ayam. Daging bebek, yang paling banyak, seperti telah disebut diawal tulisan ini, digoreng atau dibakar.

Selain memesan rica-rica bebek, seperti biasa ‘Kuliner Tembi’ memesan minuman juice, untuk kali ini memesan juice Jambu biji tanpa es. Rica-rica bebek hanyalah lauk, bukan paket menu, sehingga memesan rica-rica bebek sekaligus harus memesan nasi. Karena tanpa memesan nasi, hanya rica-rica bebek yang dihidangkan.

Bumbu dari rica-rica bebek ini terasa sekali, sehingga empuk dari daging bebek, dilengkapi dengan rasa gurih dan pedas berbaur menjadi satu. Rica-rica bebek disajikan dalam manci kecil. Lima daging dari rica-rica bebek sudah dilengkapi kuahynya. Santan dan bumbu yang telah bercampur seperti terlihat pada kuahnya yang kental.

Warung makan ini bisa ditemukan di jalan Demangan, dan berada di lokasi RRI Demangan Yogya. Lokasinya di tempi jalan. Karena areanya luas, sehingga dari tepi jalan masuk melalui pintu gerbang dan langsung menuju Quak2 Resto.

Di resto ini sejumlah menu tersedia, termasuk ada bebek betutu. Jadi, bagi orang yang ingin menikmati beragam pilihan kuliner, Quak-quak resto barangkali bisa dimasukan sebagai salah satu alternative. Karena, ada banyak ruang makan dan menyajikan beragam kuliner. Quak-quak ini, hanyalah salah satu dari sejumlah resto lainnya.Ingin pedas rica-rica bebek, di Quak2 resto tempatnya.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Jumat, 22 Agustus 2014

Santap Brongkos di Waroeng Soekonandi Yogya

Warungnya baru berdiri sekitar 3 tahun yang lalu di Jalan Sukonandi, sebelumnya berada di sekitar Kridosono, Kotabaru, Yogya. Pada papan nama warung itu terrtulis ‘Warung makan dan Es teller’. Pada kartu nama pemiliknya, Prasetyo, ditulis ‘Spesial Brongkos Soekonandi’.

Adalah Hariadi Saptono, Direktur Eksekutif Bentara Budaya Jakarta yang memberikan pesan, bahwa di Jalan Sukonandi 1, Yogyakarta, ada warung enak, namanya warung es teler.

“Mas, kita bertemu di warung es teler Jalan Sukonandi, dari Radio Geronimo ke timur ada pertigaan belok ke selatan, dan di sebelah barat jalan letak warung itu,” Hariadi memberi pesan secara rinci.

Maka, Sabtu siang tanggal 13 Juli 2013 kuliner Tembi menuju ke warung yang telah disebutkan. Lokasi warungnya memang persis berada di tepi jalan. Pepohonan rindang yang menaungi tempat makan warung itu, sehingga udara sejuk merayapi tubuh.

“Silahkan pesan apa?” Hariadi menawari.

Seorang pelayan warung menyodorkan list menu. Ada banyak pilihan menu, ada kwe tiaw, nasi goreng petai dan lainnya. Yang menarik, ada brongkos. Pilihannya brongkos tahu, brongkos telor, brongkos daging dan brongkos komplit.

“Brongkos komplitnya enak,” kata Prasetyo pemiliknya.

Menu brongkos
Akhirnya, kuliner Tembi memilih menu brongkos komplit, yang terdiri dari tahu, telor daging dan koyor. Warna kuahnya coklat khas brongkos, kacang tholonya ada di dalam kuah. Hanya saja, kulit melinjonya tidak disertakan. Rasanya memang enak, sungguh Prasetyo tidak berbohong.

Dagingnya sudah ikut berubah warna coklat seperti kuahnya, sangat empuk, sehingga tidak susah dikunyah. Bahkan, dagingnya dipotong (dicuil) dengan sendok pun bisa. Rasanya brongkos di jalan Sukonandi paling enak, dibandingkan brongkos di warung-warung lainnya.

Brongkos Prasetyo ini tidak terlalu pedas, dan rasa manis serta gurih seperti tak berhenti bergelut di lidah.

Selain brongkosnya enak, suasana warungnya, yang di bawah rindang pepohonan, memberikan rasa nyaman duduk berlama di tempat makan. Angin yang meniup dedaunan membuat tubuh terasa semilir.

Ornamen yang menghiasi bangunan warung, menempel di pohon berasal dari barang-barang bekas, seperti bekas tutup minuman, sehingga sekujur tubuh pohon penuh warna.

Atap menyerupai payung, yang dipakai untuk memberi keteduhan di ruang makan outdoor, menggunakan antena parabola yang sudah tidak terpakai ditutup dengan kain atau plastik dan diberi warna. Pada tubuh pohon digantungi kayu tipis berbentuk bulat dan ditulis jenis menu yang tersedia, ‘mendoan', misalnya.

Tempat makan di antara pepohonan
Selain itu pada dinding di luar ruang makan, yang dipakai untuk parkiran sepeda motor, diberi tempelan, yang ditulisi nama-nama menu yang tersedia. Posisi tempelannya menyebar dan dalam bentuk bulat seperti cobek dan dicat warna-warni, sehingga dari tempat duduk yang agak jauh, orang bisa memesan menu.

Yang lebih unik, pemilik warung, Prasetyo, sangat ramah dan selalu menyapa orang yang hadir di warungnya. Ia sekaligus suka ‘meramal’ tamu-tamunya dengan misalnya, melihat tangannya, dan kemudian memberi saran kepada tamunya. Seperti dialami Bambang Kusuma, pengajar jurusan Sosiologi Atmajaya, diminta untuk memanjangkan kuku di jari kelingkingnya sepanjang 1 cm.

Oranamen menempel di pohon
Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya


Kamis, 07 Agustus 2014

Sungguh Pas Di Perut Menyantap Bubur Gudeg Di Pagi Hari

Sepiring bubur gudeg lengkap dan segelas teh panas, pas untuk mengisi perut di pagi hari
Masyarakat Yogyakarta masa lalu mempunyai korelasi yang kuat dengan kebiasaan atau kultur makan (sarapan pagi) dengan bubur gudeg. Kultur sarapan bubur gudeg ini sekarang mulai pudar mengingat ada begitu banyak tawaran cara sarapan dengan kuliner lain yang beragam.

Di tengah maraknya dunia kuliner di Yogya ternyata penjual bubur gudeg masih dapat ditemukan di banyak tempat. Salah satu pos bubur gudeg dapat ditemukan di Jl Parangtritis, khususnya di sisi selatan Pasar Prawirotaman hingga sekitar bekas Kampus STIE atau Kampung Salakan di sisi utara perempatan ringroad Druwo. Di ruas jalan ini setidaknya dapat ditemukan enam penjual bubur gudeg.

Bubur gudeg identik dengan gudeg basah, bukan gudeg kering seperti yang terdapat di Wijilan atau di kawasan Barek. Bubur gudeg juga identik dengan pagi hari karena bisa dikatakan bubur gudeg hampir tidak pernah dijajakan pada siang atau malam hari.

Suatu hari Tembi berkesempatan mencoba kuliner bubur gudeg di warung gudeg Bu Rus yang memiliki nama lengkap Rusmini (56). Tembi memesan bubur gudeg lengkap dengan lauk tahu, krecek, dan sebutir telur. Saat Tembi cermati, ada tambahan kuliner lain selain gudeg dan asesori itu, yakni daun papaya. Untuk bubur gudeg dengan kelengkapan seperti itu Tembi cukup membayar Rp 8.000, dan segelas teh panas Rp 1.000.

Sensasi makan bubur gudeg tidaklah sama dengan bubur ayam. Bubur gudeg bisa juga berasa pedas jika diberi lauk sambel goreng krecek. Rasa gurih bubur gudeg ditimbulkan oleh santan yang menjadi cairan utama dalam mengolah bubur. Beda dengan bubur ayam yang minim santan sehingga terasa lebih hambar.

Bu Rus bersama suaminya, Sukoco, siap melayani konsumen
Rasa gurih bubur gudeg ini akan semakin lengkap dengan kucuran kuah opor yang disebut areh oleh orang Jawa. Kuah sambel goreng krecek yang pedas akan menohok tenggorok dengan sensasi nyos yang membuat syaraf seperti terbangunkan di pagi hari. Mungkin karena itulah bubur gudeg sangat cocok untuk kuliner sarapan pagi.

Gudeg yang kuat pada rasa manis (sedikit samar rasa asinnya) menjadi hentakan rasa lain pada dominasi rasa gurih bubur dan areh. Daun papaya yang tidak pahit memberikan sentuhan kesegaran yang dapat menjadi penawar dari rasa eneg karena dominasi areh yang gurih.

Bagi Tembi areh yang disantap di warung Bu Rus terasa kurang kental dan rasanya masih kurang mengigit. Tekstur gudegnya juga terasa masih kurang “mlonyoh”. Namun semua itu mungkin juga berkait dengan selera masing-masing.

Telur yang dimasak opor semalaman menjadikan telur tersebut relatif keras dan tidak “mblenyek” ketika dipecahkan di piring. Telur yang demikian ini dikenal dengan istilah “gempi”. Krecek atau krupuk kulit yang “kiyel-kiyel” melengkapi sensasi bersantap pagi. Bubur memiliki efek adem di perut, tidak “mrongkol” seperti halnya nasi. Jadi memang pas untuk suasana pagi ketika usus belum lagi menggeliat dengan kekuatan penuh.

Bubur gudeg bisa dikatakan hanya bisa dinikmati pagi hingga menjelang siang hari. Bubur ini akan lebih nikmat disantap ketika masih panas karena memberikan efek “kemepyar”.

Warung Bu Rus biasanya buka pukul 05.30-10.00 WIB. Jadi bagi yang ingin menikmati bubur gudeg harap datang tidak lebih dari jam itu. Selepas itu Anda akan kesulitan menemukan sensasi bubur gudeg. Warung gudeg Bu Rus tutup total di bulan Ramadan dan hari Lebaran. Bu Rus yang asli warga Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul, dalam berjualan selalu didampingi suaminya, Sukoco. Bu Rus mulai merintis jualan gudeg sejak 1997.

Warung gudeg Bu Rus dilihat dari Jl. Parangtritis
Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Senin, 04 Agustus 2014

Resep Sambel Goreng Taoco dalam Majalah Kajawen 1936

Majalah Kajawen terbitan 1936 yang memuat resep sambel goreng taoco

Satu lagi kuliner tradisional Jawa yang dimuat dalam Majalah Kajawen yang beraksara dan berbahasa Jawa terbitan tahun 1936, yaitu “Sambel Goreng Taoco”. Resep ini dihadirkan oleh seorang wanita Jawa bernama Raden Nganten (R Ngt) Pujirah.
Ia berbagi resep ini untuk para pembaca Majalah Kajawen, yang kala itu hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan dan pedagang kelas menengah dan atas saja. Maka tidak heran, bahwa masakan ini, pada zaman dulu hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan saja. Namun saat ini tentunya siapa saja boleh mengonsumsi dan merasakannya.
Dengan bahasa dan aksara Jawa, resep kuliner ini disajikan dengan bahasa yang lugas, seperti pada resep sebelumnya, yakni “Terik Garing Daging Lembu”. Pada resep kedua ini, Pujirah menyampaikan bahwa bahan-bahan untuk membuat kuliner “Sambel Goreng Taoco” adalah sebagai berikut: hati (sapi, bisa juga lainnya seperti hati ayam) yang berkualitas bagus yang diiris-iris kecil. Hati sebagai bahan utama. Sayangnya tidak disebutkan beratnya. Jadi, bisa dikira-kira sendiri sesuai dengan porsi yang diinginkan.
Lalu bumbunya adalah: bawang merah, bawang putih (dalam teks disebut dalam bahasa Jawa, brambang bawang), lengkuas, serai, asam, gula Jawa, terasi, cabe merah, cabai hijau dan garam secukupnya. Proporsi semua bumbu tersebut secukupnya. Bumbu lain berupa taoco juga secukupnya.
Cara memasaknya sebagai berikut: Bawang putih dan merah diiris tipis-tipis, cabai dibuang isinya lalu diiris tipis-tipis juga. Sere dan lengkuas juga diiris. Semua bumbu tersebut digongso dengan minyak goreng sedikit di atas wajan. Tidak lupa ditambahkan bumbu lain, seperti gula Jawa dan garam secukupnya. Jika bumbu yang digongso telah matang, irisan hati dimasukkan bersama dengan taoco, diaduk hingga rata, kemudian santan dimasukkan secukupnya. Setelah itu masakan ditutup sebentar hingga masak.
Resep sambel goreng taoco dalam tulisan Jawa
Demikian resep dan cara memasak kuliner tradisional berupa “Sambel Goreng Taoco” ala Majalah Kajawen tahun 1936.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Selasa, 22 Juli 2014

Bakmi Jawa Pak Rebo di Jalan Katamso

Bakmi nyemek khas Pak Rebo
Ada banyak penjual kuliner bakmi Jawa, atau sering ditulis bakmi jowo, di Yogyakarta. Ada penjual yang mengambil lokasi di tengah kota, seperti bakmi Kadin, bakmi Babilon, bakmi mbah Hadi, bakmi Pak Rebo atau di tengah dusun dan dikenal luas seperti bakmi mBah Mo, yang berada di Dusun Code, Bantul.
Salah satu penjual atau warung kuliner bakmi Jawa yang di tengah kota, tepatnya di Jalan Brigjen Katamso, adalah Bakmi Jawa Pak Rebo. Letaknya, hanya sekitar 1 km dari Keraton Yogyakarta dan hanya kira2 200-an meter sebelah timur dari benteng yang mengelilingi keraton.

Warung Bakmi Pak Rebo nyaris tidak pernah sepi pembeli. Saat Tembi datang ke warung itu akhir November lalu sekitar pukul 20.00 sudah menunggu lebih dari 10 orang. Tetapi, meski menunggu antrian, pesanan tak butuh waktu lama untuk tersaji, karena ada dua anglo dan wajan untuk memasak pesanan.

Pesanan minuman berupa teh jahe panas, seperti biasa disajikan lebih dulu. Panas airnya mendidih, bukan diambil dari termos, sehingga jahenya matang. Rasa hangat jahe dan panas air teh segera mengalir ke tubuh, dan beberapa sruputan, tubuh menjadi semakin hangat dan mulai berkeringat.

Satu piring kuliner bakmi Jawa nyemek, tanpa kepala ayam, sayap, dan jeroan pun segera terhidang. Cukup bakmi nyemek, disertai daging suwiran. Telornya memang khas bakmi Pak Rebo, ialah telor bebek.

Rasa gurih bakmi sangat melekat. Kuah dan telor telah menyatu, sehingga seperti santan. Perpaduan bumbu bakmi dan telor bebek membuat rasa gurihnya sangat kental dan seolah terus terbawa sampai ke rumah.

Kuliner Bakmi Jawa Pak Rebo memang sudah lama. Pada spanduk yang ditempel di dinding ruang makan, tertulis sejak tahun 1940, dan sekarang diteruskan oleh generasi kedua. Jadi Bakmi Pak Rebo bisa disebut memiliki ‘rasa warisan’ dari pendahulunya. Harga sepiring bakmi hanya Rp 15.000, dan porsinya cukup besar, sehingga sekali makan, perut langsung terasa kenyang.

Bersumber dari : Tembi.Net